5 Tip untuk Desainer dan Founder dari VP of Design Adobe

 

5 Tip untuk Desainer dan Founder dari VP of Design Adobe

Adobe kini berada di tengah-tengah sebuah evolusi desain. Perusahaan ini dikepung oleh para pemain lincah seperti Sketch yang menawarkan tool ringan untuk para desainer web dan aplikasi di era mobile dan cloud. Tak mau ketinggalan, raksasa desain ini pun mengubah haluan tepat pada waktunya. Adobe mulai mengenali dan mencoba memenuhi kebutuhan desainer masa kini.

Perusahaan ini telah berpindah ke model berbasis langganan dengan meluncurkan Creative Cloud. Sejumlah aplikasi Adobe baru yang mobile-friendly kini sudah terintegrasi dengan cloud. Tapi dari semua produk barunya, Adobe Experience Design (XD) yang diluncurkan Maret lalu bisa dibilang adalah yang paling menarik perhatian.

Adobe XD dibuat dengan mempertimbangkan pengalaman pengguna (user experience/ UX). Tool ini menggabungkan proses mendesain dengan kolaborasi, pembuatan prototipe, dan pengujian. Desainer juga bisa melihat keseluruhan user flow (alur yang dilalui pengguna untuk menyelesaikan sebuah task seperti membuat reservasi, membeli produk, atau berlangganan sesuatu), tanpa perlu beralih antara satu tool ke tool lain atau membuka beberapa halaman atau layar yang tidak terhubung. Penggabungan ini tentunya memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik pada aplikasi dan web.

Versi Android, iOS, and MacOS dari Adobe XD sudah diluncurkan. Saat ini Adobe tengah bekerja sama dengan Microsoft untuk membuat versi Windows.

Versi Android, iOS, and MacOS dari Adobe XD sudah diluncurkan. Saat ini Adobe tengah bekerja sama dengan Microsoft untuk membuat versi Windows.

Dari product-centric ke user-centric

Jamie, yang telah memimpin inisiatif desain di Adobe selama lebih dari 12 tahun, memberikan sekilas pola pikir yang membuat Adobe beralih dari “pendekatan product-centric ke customer-centric.” Sebelumnya, fokusnya adalah pada produk unggulan tertentu seperti Photoshop dan Illustrator, tapi kini mereka ingin mendukung keseluruhan proses kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, Adobe XD diciptakan.

Kedua, Adobe juga beralih dari menciptakan versi produk yang berbeda untuk perangkat yang berbeda, menjadi mengembangkan satu versi produk yang bisa berjalan di semua surface. Ini akan memudahkan kamu untuk melakukan sinkronisasi otomatis di beberapa perangkat, serta mempermudah kolaborasi. Tentunya, kemudahan ini harus mengorbankan sesuatu — dalam hal ini, fitur khusus untuk perangkat tertentu terkena imbasnya. Tapi, hal ini selaras dengan bagaimana hal tersebut dilakukan. “Kini kami memiliki proses desain horizontal,” jelas Jamie.

Salah satu prioritas Adobe dalam evolusi ini adalah mempertahankan identitas brand mereka di beberapa produk, baik produk lama maupun baru. Bagaimana membuat mereka terlihat seperti sebuah keluarga? Jawabannya terletak pada bahasa visual yang disebut Spectrum. Sebuah bahasa visual yang modern, tajam, dan bisa digunakan di seluruh produk untuk mendapatkan rasa dan tampilan yang baku. Misalnya, bahasa visual ini memiliki bit kode untuk tombol, yang bisa digunakan kembali.

Hal yang harus dikorbankan dari homogenitas web-centric atau app-friendly ini adalah kurangnya fleksibilitas bagi desainer, meskipun menurut Jamie itu justru bagus. Mengapa menghabiskan waktu membuat sesuatu yang sudah ada, padahal ada tantangan desain dan bisnis lain yang lebih mendesak untuk ditangani? Menurut Jamie, tantangan yang lebih besar bagi Adobe adalah memperkenalkan produk baru, sementara produk lama seperti Photoshop terus menjadi penyumbang pendapatan terbesar.

Tip untuk para desainer dan founder

Dalam kesempatan yang sama, Jamie juga memberikan sejumlah tip kepada desainer dan founder yang telah mendengar diskusinya dengan Jay Dutta, mantan Head of UX design Adobe India. Menurut Jamie, ada pergeseran yang fundamental. Para founder dan manajer kini mulai melihat desain sebagai sesuatu yang harus ada di awal, bukan di akhir.

Secara spesifik, Jamie memberi lima tip berikut:

  • “Jangan terlalu berfokus pada elemen visual.” Di ranah cloud dan mobile, fokusnya harus pada fungsi, bukan pada dekorasi tambahan yang sebenarnya tak perlu. Buatlah sesuatu yang berfokus pada pengguna, task-oriented, dan ringan.
  • “Memahami pelanggan.” Semakin desainer memahami pelanggan dan bisnisnya, maka akan semakin baik pula desain UX mereka. Sebab, desain yang mereka buat didasarkan pada interaksi dan analisis yang mereka peroleh.
  • “Jadilah suara yang mewakili pelanggan.” Maksudnya adalah berempati kepada pengguna hingga seolah-olah UX yang ditawarkan mewakili suara pelanggan dibanding suara si desainer. Egoisme harus mengalah pada empati.
  • “Jangan takut untuk menantang founder.” Desainer kini memiliki kesempatan besar untuk membentuk strategi bisnis. Sebaiknya, mereka tidak menghindari kesempatan itu—mereka justru harus terlibat di dalamnya.
  • “Bersikap baik terhadap desainer.” Tip terakhir ini lebih ditujukan kepada para founder dan manajer. “Suara desainer adalah suara pelanggan,” tegas Jamie. Desainer yang mendalami pengalaman pengguna lah yang bisa memvisualisasikan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Sumber: https://id.techinasia.com/tip-desain-diketahui-desainer-founder-adobe-xd